MENJADI RUMAH SAKIT RUJUKAN PELAYANAN KESEHATAN BAGI MASYARAKAT BREBES DAN SEKITARNYA YANG BERMUTU, MEMUASKAN DAN MANDIRI
Komite PKRS 24 Januari 2018

diferti 

Setelah sewindu lamanya, Difteri kembali merebak di bumi nusantara. Dari data Kementerian Kesehatan, hingga Desember 2017 wabah penyakit ini telah mencapai angka 907 kasus dan memakan korban 38 orang meninggal dunia. Pemerintah bahkan telah menetapkan 11 propinsi berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Barat, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur dan Riau.

        Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae ini menular dan berbahaya. Umumnya menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan dan kulit pada orang yang tidak mempunyai kekebalan terutama anak-anak. Difteri berakibat fatal karena menghasilkan racun yang membunuh sel-sel sehat. Selanjutnya, kumpulan sel sehat ini akan mati dan membentuk selaput putih keabu-abuan pada tenggorokan atau pseudomembran yang mudah berdarah. Ini akan menjadi sumbatan jalan nafas dan menyebabkan kematian. Racun dari bakteri difteri juga dapat menyebar ke aliran darah, sehingga menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal, sistem sirkulasi dan sistem saraf.

        Orang tua perlu mewaspadai difteri dengan mengenal gejalanya yaitu demam yang tidak begitu tinggi (38ºC), sakit kepala, pseudomembran pada tenggorokan, sakit waktu menelan, pilek, sesak nafas, suara serak, lemas, pembesaran kelenjar getah bening leher dan pembengkakan jaringan lunak leher yang disebut bullneck.

        Selain itu, penting untuk mengetahui alur penularan penyakit agar bisa memutus rantai infeksi. Bakteri difteri ditularkan melalui udara yang mengandung percikan air liur pengidap saat bersin atau batuk. Atau saat kontak langsung dengan luka borok pada kulit pengidap. Biasanya penularan ini terjadi oleh pengidap yang tinggal di lingkungan yang kurang bersih. Bisa juga melalui barang yang terkontaminasi oleh bakteri, seperti handuk, alat makanan, dan lain-lain.

        Outbreak difteri ini muncul akibat adanya immunity gap, yaitu kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah. Orang tua dan petugas kesehatan perlu memastikan anak-anak status imunisasinya lengkap. Karena Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan imunisasi sebagai pencegahan difteri paling efektif selain menjaga kebersihan, pola hidup sehat dan konsumsi makanan bergizi seimbang, terutama buah dan sayur.

        Berikut adalah jadwal imunisasi yang diberikan untuk mencegah Difteri :

  • Usia kurang dari 1 tahun harus mendapatkan 3 kali imunisasi difteri (DPT) yaitu pada usia bayi 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan.
  • Anak usia 1 sampai 5 tahun harus mendapatkan imunisasi ulangan sebanyak 2 kali.
  • Anak usia sekolah harus mendapatkan imunisasi difteri melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) siswa SD kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 atau kelas 5.
  • Setelah itu, imunisasi ulangan dilakukan setiap 10 tahun, termasuk orang dewasa.

        Yang terpenting adalah jika menjumpai status imunisasi anda atau anak-anak anda belum lengkap, segera lakukan imunisasi di fasilitas kesehatan terdekat. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Untuk Indonesia lebih sehat. (Indah Iswati, SKM -- Edukator PKRS RSUD Brebes)